-->
Motivasi Menulis

Cinta Tanpa Judul, Part 9

Persembahan gua kesembilan untuk kalian yg setia baca cerita cinta gua yg gak penting ini. dan buat kalian yang belum baca dari awal, bisa langsung klik disini

Bel 3 kali, hal paling menakutkan untuk didengar, ya itu karna bel 3 kali merupakan tanda bahwa kegiatan paling membosankan sedunia akan dimulai, belajar dikelas. Kali ini sejenak kita lupakan tentang kisah cinta gua yang gelap dan membahas mengenai sekolah gua yang gak kalah suram.
nemu di : gambargambar.com


            Hari ini adalah hari pertama di tahun pelajaran baru di kelas 3 SMP, taun akhir gua untuk menanamkan sesuatu yang baik dan meninggalkan kenangan manis diantara banyaknya hal pahit yang meluluri perjalanan gua disini. Ada yang sedikit berbeda di taun ini, susunan formasi emas para cecumuk mendadak bubar dikarenakan kebijakan tak merakyat pemegang kekuasaan disekolah ini. ya, kebijakan reshuffle anggota kelas memaksa kami untuk terpisah oleh jarak, sepertinya kami akan mengalami LDR.

            Barisan manusia ikan asin uda berbaris rapi di bawah teriknya matahari pagi seakan menanti siapa yang akan digoreng pertama kali, padahal ini hanyalah menunggu pengumuman dimana kami akan mengabiskan 5 jam kehidupan harian kami. Yang gua takutin dari agenda reshuffle ini adalah jika gua gak sekelas lagi sama Deni, bakalan nyontek ama siapa ni gua. Sebuah ketakutan dari siswa goblok.

            Satu per satu nama keluar dari toa yang berdekatan dengan moncong mister Tomo “the killer”. Guru terhoror sepanjang sejarah pendidikan gua. Walaupun selama ini gua gak pernah menjadi korban, setidaknya uda berulang kali gua jadi saksi tampan dari aksi beliau.

            Akbar adalah korban paling sering dari aksi pak Tomo. Gua ambil contoh saat Akbar ntah secara sengaja atau gak datang terlambat kesekolah dan saat itu setiap paginya pasti ada apel. Dan seperti juga yg mungkin terjadi disekolahan lain jika ada yg telat pasti bakalan disuruh keluar barisan dan maju. Akbar pun maju kearah pak Tomo yang emang tiap pagi menjadi inspektur apel.

            Malangnya hari itu Cuma dia yang telat.  Mungkin sebagian kita akan mengira bahwa Akbar hanya akan dijemur dan hormat ke bendera. Perkiraan gua salah, pak Tomo mengambil sepatu yg sebelumnya melekat dikakinya dan menghantamkannya ke punggung Akbar, agak sadis memang, tapi mungkin niatnya baik untuk beri pelajaran ke anak-anak bandel.

            Untungnya dijaman gua sekolah, gak ada tu mereka yg melapor ke orangtuanya hanya karna mendapat hukuman dari guru. Gak seperti anak sekarang yang menurut gua terlalu manja. Dicubit dikit aja masalahnya bisa sampai ke polisi. Padahal kadang emang muridnya yang bikin kesalahan. Tapi bukan berarti gua mendukung atas tindakan kekerasan guru ke murid, memang sebaiknya ada bentuk hukuman lain untuk memberikan hukuman kepada murid yang melanggar aturan, bisa aja dengan membersihkan toilet sekolah yang gua rasa lebih berguna dan manusiawi.

            Ahh, sudahlah lupakan hal itu. Balik lagi kita ke masalah reshuffle. Mister Tomo mulai mengumumkan siapa yg masuk kelas D. Hingga 30 nama yang disebutkan, gak ada satupun anggota cecumuk ini yang dipanggil. Masuk ke kelas C, kegalauan mulai terjadi karna Riko ternyata harus di tempatkan disana, berkuranglah personil ini. masuk kelas B, lagi personil ini harus pecah karna Akbar dan Andra ternyata harus menjalani hidupnya disana. Dan yang tersisa hanya gua, Deni dan Husein. Ahh kelegaan benar-benar gua rasakan karna gua kembali bersama sang master Deni, gua gak perlu repot lagi mikir bakalan nyontek ama siapa ntar karna sang juru selamat ada bersama gua.

            Sampai saat itu gua gak menyadari sebenarnya ada muslihat jahat yang gagal dari reshuffle ini. Hingga akhirnya Pak Yanto, guru matematika gua yang memiliki perawakan tinggi dengan sepasang kaca besar menggantung didepan matanya yang kata orang namanya kacamata masuk ke kelas gua.

            “loh, kalian duduk bareng lagi ?”, Tanya Pak Yanto yang memicingkan matanya kearah gua dan Deni. Uda jelas kalo pertanyaan ini untuk kami berdua.
            “iya pak, mungkin kami ditakdirkan bersama”, celetuk asal Deni. *please jangan kira kami homo*.
            “padahal, niatan guru untuk mengacak komposisi kelas adalah biar kalian gak bareng lagi, kami ingin liat kemampuan sebenarnya Galih kalo misalnya gak ada Deni”, sebuah testimony mengagetkan dari Pak Yanto.

            Ntah benar atau gak, tapi setidaknya itu adalah rencana keji untuk memisahkan dua “sahabat”. Selama ini apa yang keluar dari mulut Pak Yanto gak selamanya benar. Pak Parto adalah guru pertama yang “mengelus” kepala gua dengan batu cincin. Dan kejadian itu terjadi di kelas 1 di hari pertama masuk SMP saat gua salah menjawab pertanyaan.

            Walaupun gua punya memori buruk dengan beliau dan batu cincinnya, gua malah bisa dibilang cukup dekat dengan beliau. Mungkin gua kebawa kedekatan Deni yang memang masih punya hubungan sodara dengan Pak Yanto. Dan saat SMP gua juga masih mencintai matematika, jadi gua emang cukup semangat saat pelajaran Pak Yanto.

            Namun cobaan berat gua bukanlah berasal dari Pak Yanto. Masih ada killer teacher di balik tembok penjara dengan embel-embel pendidikan yg kata orang namanya sekolah. Bu Ningsih, guru bahasa inggris gua adalah sosok paling menakutkan bagi tiap siswa termasuk gua.

            Memang cincin nikah yang memeluk jari manisnya belum pernah mengelus kepala gua, tapi setidaknya cap merah selalu ada ditelinga gua tiap kali pelajarannya. Ya, itulah efek dari kebodohan gua di pelajaran ini.

            Ntah kenapa gua begitu bodoh kalo masalah bahasa inggris, walaupun sebenarnya dipelajaran lain juga hampir-hampir mirip. Bahkan saat gua dulu masih kursus bareng Airin *hmm, jadi keinget masa-masa bareng my bleeding heart*. Ya, dibalik sesuatu yang manis pasti ada terselip kebusukan. Gua yang notabene saat itu uda kelas 2 SMP di hancurkan jiwa raganya oleh bocah kelas 4 SD.

            Saat itu ada sesi dimana Mister Helmi membaca sebuah cerita singkat, setelah itu bertanya tentang cerita yang dibacakan itu, dan selama 3 pertemuan gua jadi satu-satunya pesakitan yang gak bisa jawab pertanyaan. Hingga tepat pada pertemuan ke 3, seorang bocah yang terlahir dengan nama Kevin, dengan langkah tanpa dosa lewat depan kelas gua, dan pergerakannya itu tertangkap oleh Mister Helmi yang ntah kenapa punya inisiatif untuk nyuruh masuk.

            “ok Kevin, saya akan membacakan sebuah cerita, setelah itu saya akan mengajukan pertanyaan mengenai cerita itu” ujar Mister Helmi.

            Dan sesaat setelah Mister Helmi membacakan cerita sekaligus mengajukan pertanyaan. Secara ajaib bocah itu bisa menjawabnya hanya dengan 1 hembusan nafas *uda kayak ijab Kabul aja*. Saat itu lah gua merasa bener-bener terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam, aku tersesat dan tak tau jalan pulang, aku tanpamu butiran debu, *eh, sori gagal focus*.

            Aku rasa kenyataan itu lebih sakit daripada pukulan cris john sekalipun. Trauma mendalam dari kejadian itu masih membekas dalam hatiku *sori kalo lebai*. Mungkin kejadian itulah yang bikin gua kesulitan dalam pelajaran bahasa inggris *alibi*.

            Kehadiran Bu Ningsih menambah dalam rasa horror gua terhadap pelajaran bahasa inggris. Pelajaran Bu Ningsih adalah pelajaran dimana para siswa paling sering melihat ke arah jarum jam yang seperti polantas yang terus bergerak tapi tak melakukan perpindahan posisi.

            Kesan pertama gua bertemu dengan beliau pun tak seindah pertemuan pertama gua dengan Airin, my bleeding heart yang selalu terkenang dalam hati *tu kan malah nostalgila*. Hampir sama dengan Pak Yanto, pertemuan dengan Bu ningsih pun diawali dengan gerakan mengelus tangannya di anggota tubuhku. Bedanya kalo Pak Yanto mencoba mengakrabkan gua dengan batu cincinnya, Bu Ningsih lebih ingin mengenalkan gua dengan jari jempol dan telunjuknya yang menghimpit daun telinga gua dengan gerakan menjauh.

            Di kelas gua bahkan sampai dibentuk tim pemantau dan tim doa untuk menghadapi Bu Ningsih. Tim pemantau ini kerjanya adalah melihat dan menghitung mundur kedatangan Bu Ningsih. Letak geografis kelas gua yang bersampingan dengan parkiran membuat tim pemantau dapat melihat gerakan kendaraan yang masuk, terutama gerakan kendaraan Bu Ningsih. Dan setiap ada samar-samar suara motor akan datang, saat itu lah tim doa bekerja untuk mendoakan bahwa sang penunggang motor itu bukan lah Bu Ningsih.


            Mungkin ini terlihat sebagai ketakutan berlebihan, tapi itu lah yang terjadi. Ketakutan setiap siswa dengan seorang guru yang sebenarnya punya niatan mulia membebaskan gua dan para cecumuk ini lepas dari penjara kebodohan. Dengan banyaknya ketakutan yang ditebar Bu Ningsih selama pelajaran, harus diakui kemampuan bahasa inggris ku mengalami peningkatan. Mungkin metode keras yang diterapkan beliau mampu mendobrak jalan buntu dalam otak gua yang bikin gua selama ini tak lepas dari kebodohan.


*** Bersambung ***

Cinta Tanpa Judul, Part 8

Ini adalah lanjutan dari rangkaian cerita cinta gua, bukan cerita yg romantis layaknya dram korea bukan pula cerita sedih layaknya cerita "litre of tears". hanya sebuah cerita yang mungkin gak penting-penting amat, tapi cobalah untuk menikmatinya. cekidot. 


Bisa dibilang itu adalah terakhir kalinya gua dan Anggi bersama, terakhir kalinya gua liat 2 gigi serinya menyembul dari balik bibirnya yang sedikit melebar yang banyak orang mengatakan itu adalah senyuman. Darwin benar-benar telah mencuri Anggi.

            Bahkan saat disekolahpun radar gua tak mampu berjalan maksimal untuk menangkap kehadiran Anggi. Kalo dulunya gua selalu mencari cara untuk menjauhinya, sekarang gua selalu berharap bisa melihatnya bahkan jika itu hanya 1 hembusan nafas saja.

            Hingga pada saat hari terakhir ujian nasional SMP dimana Anggi adalah salah satu pesertanya. Seperti yang pernah gua bilang kalo Anggi adalah kakak kelas gua. Dan seperti biasanya disaat anak kelas 3 ujian, kelas 1 dan 2 dikasih tugas piket, dan hari ini adalah giliran kelas gua yang kebagian tugas. Ada rasa malas yang meraba karna liburan gua jadi terganggu namun ada rindu yang mencekam dan keinginan kuat untuk bertemu Anggi.

            Sengaja gua datang awal dengan harapan gak ketinggalan bisa ketemu Anggi. Tapi uda lebih dari 30 menit dan ujian uda mau dimulai, dari begitu banyak wajah yang melintas tak ada satupun wajah Anggi. Apa mungkin dia punya pintu doraemon yang mengarahkannya langsung ke kelasnya.

            Dari kesibukkan gua mengamati setiap wajah yang lewat, ada satu cewek yang ntah kenapa seakan terus memaksa mata gua untuk menoleh kearahnya. Yang gua tau dia bukan salah satu pejuang yang hari ini bertempur dalam medan ujian nasional,itu bisa dilihat dari pakaian yang dia gunakan dan saat ini dia lagi megang sapu yang nunjukin kalo dia lagi kena kewajiban piket, dan sepertinya dia adalah adik kelas gua mengingat wajahnya cukup asing untuk dibilang teman seangkatan.

            Ahh, sudahlah lupakan dia, mari kembali focus pada Anggi. Bahkan saat ujian uda dimulai dan temen-temen gua uda pada pulang, gua masih tetap setia, setia menunggu seseorang yang akan menyakiti lebih dalam. Sembari menunggu selesainya ujian gua duduk sendiri di kantin dan saat itu lah cewek itu kembali tertangkap mata gua.

            Cewek dengan perawakan mungil dengan kulit sedikit gelap yang membalut tubuhnya. Kalo gua liat-liat sih ni cewek cukup manis dan bikin betah liatnya. Tapi ya hanya sekedar lewat aja, tanpa ada tegur sapa dan saling tatap. Mungkin dia emang cukup dinikmati sekali aja.

            Dan akhirnya penantian gua gak sia-sia, karna saat jam ujian selesai gua bisa lagi liat dia dengan bibir yang terbuka yang banyak orang mengatakan kalo itu ketawa. Kesempatan uda ada tapi ntah kenapa berat buat gua terbangun dari posisi gua sekarang hanya untuk sekedar menyapa.

            Selintas dia sedikit melirik ke arah gua dan langsung berpaling lagi. Saat itulah gua bergerak berusaha mengejarnya sebelum gua benar-benar menandai dia dalam catatan masa muda gua yang tak tersampaikan.

            Namun secepat apapun gua melangkah, Anggi seakan berlari, dan kali ini gua benar-benar terlambat. Ya, sampai di gerbang sekolah gua liat dia langsung naik ke atas kuda besi, dan gua sangat mengenal siapa koboi yang menjemputnya, yes he is Darwin.

            Lagi, Anggi menoleh sesaat ke arah gua yang terlihat seakan manusia tanpa jiwa, terdiam, terjatuh, terluka, ya mungkin itu yang mengalir bersama aliran darah gua. Dalam benak gua, gua hanya bisa mengatakan “jika memang ini pertemuan terakhir kita bisakah kamu memberikan satu senyuman indah yang hanya kamu pemiliknya untuk seorang pria yang telah melewatkanmu”.

            Ya hanya itu yang bisa gua katakana itupun hanya dalam sunyi. Dan hasilnya tentu saja Anggi tak mendengar satu katapun terucap dari mulut gua. Begitupun Anggi, tanpa sepatah katapun dan tanpa senyuman dia memalingkan wajahnya meninggalkan dan benar-benar meninggalkan gua.

            Mungkin gua bisa menganggap itu sebagai tanda titk dalam tulisan tangan Tuhan dalam menulikan kisah kita yang berakhir dalam kata “sebatas teman”. Bahkan dalam ending ini gua tak sempat untuk menyampaikan sekedar ucapan terimakasih. Dan lewat tulisan ini gua akan menyampaikan sesuatu yang tak tersampaikan beberapa tahun silam.

            Hei, Anggi. Ingat malam dimana tak ada bintang, yang ada hanya rintik hujan ? saat itu lah pertama kali gua ngeliat lo, dan ingatkah saat itu wajah yang lo perlihatkan adalah wajah dengan aura ingin membunuh orang yang dihadapan lo. Ingatkah dengan semua panggilan “mesra” lo ke gua dan sebaliknya dan semua percakapan “manis” antara kita berdua dimalam itu.

            Ingat gak lo saat lantunan lagu indah dari mulut Duta Sheila On 7 ikut menemani kita yang berteduh dipayung yang sama ? kita saling melontarkan “pujian” dan malam itu benar-benar milik kita.

            Ingat gak lo saat di kantin sekolah, tangan kita saling bersentuhan diatas dompet yang jatuh, saat itu lo meneriaki gua copet dan nyaris membuat nama gua dapat tambahan “Alm”. Ingat gak lo saat fajar belum muncul, gua dan rombongan pengacau datang ke rumah lo hanya sekedar untuk menikmati setiap detik kemunculan matahari lewat kayuhan sepeda yang kita kayuh bersama.

            Lucu jika gua harus mengingat semua peristiwa indah itu. Dan nyatanya semua itulah yang membuat kita menjadi semakin dekat. Dari yang awalnya sebuah kertas kosong lalu berubah penuh dengan coretan gak penting dan kita mengubahnya menjadi sebuah puisi sebelum akhirnya kertas itu remuk dan hilang.

            Ya, malam dimana bulan bersinar dengan terangnya dan angin malam ditemani ombak menjadi senandung indah yang menemani ku menggores sendiri luka itu kala aku hadir dalam kencan pertama mu dengan dia yang baru masuk dalam hidup kita.

            Salah ku yang mengajak dia di awal fajar itu, salah ku yang mengenalkan mu dengan dia. Seperti banyak orang bilang, “bukan perpisahan yang ku tangisi tapi pertemuan yang ku sesali”. Ya mempertemukan mu dengan dia adalah kesalahan terburuk yang pernah ku lakukan.

            Hei, Anggi. Terimakasih untuk pertemuan itu, terimakasih untuk semua ejekan itu dan saat ini aku benar-benar merindukan itu, terimakasih untuk hari dimana kita menikmati pagi bersama, terimakasih untuk malam dimana aku menggoreskan luka ku sendiri, terimakasih telah mengizinkan aku menikmati senyum mu, terimakasih untuk mu wanita masa muda ku yang terlewatkan.


Perhatian : jika kalian menemukan kata dengan tulisan miring, itu artinya kata itu bermakna kebalikan.

***Bersambung***

Cinta Tanpa Judul, Part 7

ini adalah lanjutan dari rangkaian kisah miris dalam perjalanan cinta monyet gua. buat kalian yg lum baca cerita sebelumnya, bisa dibaca disini

Masuknya Husein dalam gerombolan patah hati menimbulkan kisah baru dalam perjuangan cinta monyet gua. Dan dalam kasus kali ini yang jadi tersangkanya ada 2 orang, dan salah satunya adalah Anggi. Dan satu nama lain yang terlibat dari kejahatan keji ini akan kalian ketahui nanti.

            Gak butuh waktu lama untuk gua, Deni, Riko, dan Akbar untuk mengakrabkan diri. Selain karna kita emang uda sekelas dikelas 1, kita juga punya hobi yang sama yaitu sepakbola. Letak geografis rumah Husein yang berdekatan dengan lapangan bola bikin kita sering berkumpul dirumah husein.

            Selain kedatangan kita buat main bola, kita juga sering nginep di rumah Husein. Dirumah Husein sendiri ada semacam gubuk kecil dipekarangan rumahnya. Nah tempat inilah yang menjadi markas besar dari gerombolan cecumuk ini menyusun siasat untuk merubah nasib jadi lebih baik, terutama nasib dalam percintaan.

            Walaupun ukuran gubuk ini gak terlalu besar *ya namanya juga gubuk*, namun fasilitas didalamnya sudah cukup bikin betah. Selain gubuk ini uda punya pintu dan juga jendela *ya ini ornament penting untuk mengatakan suatu bangunan bisa ditinggali*, digubuk ini juga uda ada lampu, kipas angina, TV, dan yang terpenting VCD player. Kenapa gua bilang VCD player adalah bagian terpenting, karna dengan itulah kita bisa menikmati malam minggu jomblo dengan menyaksikan film documenter malam pertama *gua rasa itu uda cukup menjelaskan film apa yang kita tonton*.

            Ya hadirnya Husein sedikit merubah haluan ideology gerombolan cecumuk ini dari yang religius menjadi bajingus. Walaupun sebenarnya pertama kali gua melihat adegan jualan aurat itu pada kelas 5 SD, tapi setelah itu gua gak pernah lagi ngelakuin hal tercela itu *seinget gua sih gitu*. Ah, sudahlah toh 5 taun lagi gua uda punya KTP yang artinya gua uda mendapat izin resmi dari Negara untuk nonton itu *untuk pernyataan yang satu ini tolong jangan dihiraukan*.

            Sebenarnya disini Husein hanya penyedia fasilitas ruang tertutup, TV dan VCD player doank. Sementara distributor ulung penyedia kepingan plastic bermuatan dosa adalah Akbar. Ya, ntah darimana diusia belia dia uda bisa mendapakan berbagai macam koleksi dari beberapa bintang atas ranjang. Dan gua juga gak mikirin itu, yang penting gua bisa menikmatinya.

            Mari lupakan sejenak tentang kejahatan mata yang kami lakukan dan anggap bahwa kalian gak pernah mengetahuinya. Dan kita masuk ke bagian favorit kalian dimana disitu adalah bagian tersakitinya hati gua yang tulus ini oleh cinta yang suci. Ya gua tau kalo kalian pasti menunggu-nunggu kapan gua akan menceritakan ketragisan cinta.

            Kedekatan gua dan Anggi semakin menjadi, namun kedekatan ini Cuma terjadi diluar sekolah. Mungkin jika kedekatan ini terjadi disekolah, popularitasnya bisa menurun drastic. Padahal gua yakin popularitasnya bisa nanjak kalo deket dengan gua, karna harus gua akui sebenarnya gua lumayan tenar disekolah ini, ntah apa yg melandasi itu, mungkin karna gua emang tampan ya, haha *sedikit congkak*.

            Kedekatan gua dengan Anggi juga menyeret para cecumuk-cecumuk ini. Dan itu bermula saat gua ngajak Anggi buat sepedaan pagi. Sebenarnya rencana ini bisa gua manfaatin buat berdua ama Anggi, namun ntah apa yang gua pikirkan saat itu,gua malah ngajakin para pria penikmat 3gp ini bersama dalam plan of love gua dan Anggi.

            Tapi harus gua akui andai gua Cuma sendiri, keselamatan gua bakalan terancam. Tau sendiri lah gimana Anggi selama ini nge-bully gua. Bisa jadi setelah sepedaan gua disuruh mijitin dia, terus nyediain minum dan berbagai penindasan lainnya dan dia hanya membayarnya dengan senyuman manisnya yang menampakkan gigi kelincinya, tapi aku suka itu.

            Tak adanya alat komunikasi antara gua dan Anggi jadi sedikit masalah. Karna gua gak bisa ngasih tau kalo gua uda take off dari markas menuju rumahnya dan gua juga gak bisa ngasih tau kalo gua uda sampai rumah dia.

            Mungkin buat kalian hal itu gampang aja, gua tinggal ketok pintunya aja buat ngasi tau kalo gua uda datang. Tapi sayangnya saat itu gua bukan cowok yang punya mental yang cukup kuat untuk melakukan itu. Namun bukan “Galih Pranata Yudha” namanya kalo gak punya cara untuk ngasih tau kedatangan gua.

            Sampai di TKP, gua gak langsung berdiri manis didepan rumahnya dan mengetok pintu. Gua punya cara lain yang lebih cemen untuk manggil Anggil keluar dari kandangnya. Gua dan para bandit bersepeda ini berhenti sekitar 20 meter dari rumah anggi. Dan langkah berikutnya yang gua ambil adalah gua dan sepeda langsung mengambil ancang-ancang seakan mau balapan. Dan, 1,,, 2,,,3,, whhuuuuusss…

            Dengan kecepatan penuh gua mengayuh, dan pada saat posisi gua sejajar dengan rumah Anggi saat itu lah rencana gua berjalan.
            “ANGGI… ANGGI… ANGGI !!!!!!”, teriak gua yang masih dalam kecepatan tinggi melebihan kecepatan kentut.
            Ya, itu lah siasat gua gimana memanggil Anggi keluar dari kandangnya. Gimana ? keliatan cemen kan gua ? Galih gitu loh. *hal ini sebenarnya bukan hal yang bisa dibanggakan*.

            Rencana gua berhasil, Anggi keluar dari gerbang rumahnya dengan keledai besinya. Saat itu Anggi menggunakan baju kuning dengan celana pendek loreng-loreng. Namun bukan itu yang mencuri perhatian gua.

            “pagi kalian”, Anggi menyapa kami yang menunggunya sedari tadi.
            “eh kampret, lo gak bisa sopan dikit apa, lo kira gua maling apa pakai diteriakin segala, lo kan bisa ngetok pintu”, dengan cemberut Anggi ngomelin gua, tapi tetap tak ketinggalan setelah itu dia kembali tersenyum.

            Ya, itu lah yang tadi mencuri perhatian gua pagi ini. Dia dengan kombinasi senyum manis gigi kelincinya benar-benar merupakan kombinasi sempurna layaknya kombinasi MeJiKuHiBiNiU yang tergaris rapi dengan nama pelangi dan menyegarkan layaknya embun pagi. Kali ini gua percaya dengan suatu kepercayaan yang mengatakan bahwa wanita terlihat paling cantik saat dia baru bangun tidur dipagi hari, dan Anggi membuktikan itu.

            Pagi ini benar-benar indah. Selain karna gua bisa menikmati kecantikan Anggi, tak sepertinya Anggi tak melakukan tindakan penganiayaan batin ke gua. Yang ada hanyalah canda dan tawa yang saling kita bagi bertiga, gua, Anggi dan para cecumuk ini. mungkin mengajak mereka memang jadi jimat keberuntungan gua.

            Awal yang manis tak selamanya menjamin kamu akan mendapat happy ending. Ya setidaknya itu yang gua rasakan. Keberuntungan gua dengan mengajak cecumuk ini memudar pada minggu ketiga kami gowes. Ya tepatnya saat Husein mengajak salah satu temannya yang lain yaitu Darwin.

            Darwin sendiri sebenarnya adalah adik kelas gua. Akhir-akhir ini Darwin memang sering datang ke rumah Husein dan juga bergabung di mabes kami. Kebetulan Darwin juga punya hobi yang sama dengan kami maka gak sulit buat akrab dengan gua dan cecumuk ini.

            Ya, di minggu ketiga seperti biasanya dari jarak 20 meter gua mengayuh dengan kencang keledai besi gua sambil teriak “Anggi…Anggi…Anggi”. Hingga minggu ketigapun gua masih malu buat ngetuk pintu rumahnya dan sepertinya Anggi uda terbiasa dengan gonggongan minggu pagi dari gua. Dan seperti gua bilang tadi gangster cecumuk ini bertambah 1 personil.

            “Gi, kenalin ni ada anak baru”, gua nunjuk ke arah Darwin.
            “oh, hei gua Anggi”, tak ketinggalan senyum manisnya saat dia mengenalkan diri.
            “gua Darwin”, jawab Darwin singkat.
            “tumben ni di geng kalian ada yang gantengan dikit”, celoteh Anggi.

            Pernyataan yang awalnya hanya gua anggap sebagai sebuah candaan. Karena selama gowes tak ada sesuatu isyarat dan gua pun tak mencium bau patah hati dari perkataan Anggi tadi dan tindak tanduknya selama gowes pagi itu.

            Namun semua prasangka baik gua itu berakhir di Sabtu pagi di sekolah.
            “Gi, besok masih mau gowes lagi ?” Tanya gua ke Anggi saat gua papasan di kantin.
            “boleh aja, oh ya jangan lupa Darwin di ajak lagi ya”, sebuah permintaan yang mengejutkan dari Anggi.
            Saat itu lah gua mulai mencium bau patah hati dan itu baunya sangat pedih. Yang gua bisa lakukan adalah,
            “ciiiiieeee !!! ada yang jatuh hati nih kayaknya”

            Ya mungkin saat itu Anggi hanya melihat ada seorang teman yang sedang usil menggodanya dengan kata “ciiiieee”. Namun yang tak dia lihat adalah ada seorang pria yang sebentar lagi akan terluka dalam.

            Bau patah hati semakin menyengat di sabtu malam saat Anggi mendadak datang ke rumah gua. Kedatangan yang awalnya gua anggap sebagai angin segar yang ternyata hanyalah sebuah badai patah hati yang dahsyat.

            “ada angin apa nih tumben lo malam minggu datang ke rumah gua ?”, Tanya gua sambil berharap dia akan ngajakin gua jalan.
            “kepaksa nih, gua mau ngajakin lo jalan dan lo gak boleh nolak”, jawaban Anggi benar-benar bikin gua senang
            “hmm, gak usa malu-malu pake bilang kepaksa segala, gua mau ko”, tentu saja gua gak akan nolak ajakan manis ini.
            “ntar kita juga bareng Darwin”, tambah Anggi lagi
            “Darwin ?”, gua mulai heran
            “iya, soalnya gua ngomong sama nyokap gua kalo gua bakalan jalan sama lo, kan bahaya kalo misalnya gua ketemu sama orang rumah gua dan mereka liat gua malah jalan sama orang lain”, penjelasan Anggi yang bikin gua mendadak sesak di dada.
“ok, gak masalah “, Gua cuma bisa ngasih senyuman yang menunjukkan kalo gua “baik-baik saja”.

Dan akhirnya gua, Anggi, dan Darwin berangkat bareng ke salah satu yang lokasinya berada dipinggir pantai.
 *ahh, tunggu mungkin bukan itu kalimat yang tepat melainkan “Anggi dan Darwin dengan gua dibelakang mereka menuju tempat dimana mereka akan menikmati tiap deburan ombak dan berbagi hangatnya cahaya bulan sedangkan gua adalah pohon kelapa”*

Ya, disini gua hanyalah figuran. Jika diibaratkan seperti sinema laga Ind*siar, Anggi dan Darwin adalah layaknya raja dan ratu yang hidup bahagia sedangkan gua hanya kebagian peran sebagai rakyat jelatan yang hanya kebagian dialog “apa kabar kisanak ?”.

Gua yang malam ini sebenarnya hanya terpisahkan satu meja dengan Anggi merasa seakan jarak kami membentang dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau #nyanyi, *eh sori gagal focus*. Gua merasa ada sesuatu yang luas yang memisahkan kami tanpa ada Sesutu yang bisa menghubungkan. Sebenarnya ada yang bisa menghubungkan namun itu seakan sebuah jembatan setipis rambut layaknya sirotul mustaqim.

“Lih, ayo kita pulang”, suara Anggi mengusik lamunan gua.
“oh, uda selesai ? oke ayo pulang”, gua berdiri dan melangkah pergi.

Ya, akhirnya malam yang penuh air mata disisi gua dan senyum bahagia untuk mereka sudah berakhir. Malam ini gua uda jadi pria baik, pria baik yang mengantarkan wanita yang disukainya ke pangkuan pria lain yang dicintai. Uda saatnya gua istirahat, ucapkan selamat malam untuk bulan yang menikmati semua kesedihan gua, ucapkan selamat malam untuk kamu, kamu yang hanya bisa dijamah lewat mimpi.

***BERSAMBUNG***


Cinta Tanpa Judul, Part 6

Ini adalah lanjutan dari rangkaian kisah cinta monyet gua. tak ada hal romantis dalam kisah ini, yang ada ceritanya cenderung tragis bin miris tapi gak bikin nangis. Buat kalian yang belum baca cerita sebelumnya, kalian bisa lihat disini.

Paskah konser romantic (harusnya), tak ada lagi pertemuan dengan Anggi, padahal gua sama dia satu SMP. Hmm, analisis gua mengatakan mungkin mata gua punya semacam aplikasi sensor yang membuat gua gak bisa ngeliat dia walaupun dia berdiri tepat dihadapan gua. Mungkin ini untuk menyelamatkan gua dari kekejaman gorilla kece.

Kisah Anggi yang gua kira hanya akan berakhir dalam satu malam ternyata meleset dari perkiraan. Tepatnya saat gua kelas 2 SMP, inilah masa dimana gua menjadi seorang yang memiliki hati sekokoh tembok cina.

Kelas 2, ada yang berubah dalam grub cecemuk boys ini, masuknya seorang personil tambahan yaitu Husein, seorang bocah yang memiliki wajah Arabic. Bergabungnya Husein ditandai dengan posisi duduknya yang merapat dengan kami. Sebenarnya gua uda kenal cukup lama, yaitu saat gua secara terpaksa ikut madrasah, namun saat itu gua dan Husein berada di geng yang berbeda.

Husein tampaknya benar-benar memilih teman yang “tepat”, dan kitapun tepat juga menerima Husein disini, karna menurut catatan perjalanan cintanyapun masih nihil keberhasilan. Syarat utama bergabung disini adalah harus pernah mengalami sakit hati atau setidaknya menyakiti.

Tak hanya anggota cecumuk saja yang berubah dikelas 2 ini, tapi nasib cintaku pun ikut berubah, dari yang semulanya tragis menjadi lebih tragis. Ya ini karna kesialan atau keberuntungan karna gua mulai sering bertemu dengan Anggi dan yang pastinya ada ngenes moment setiap bertemu dengannya.

The first ngenes moment yang gua alamin berkat Anggi berTKP di kantin sekolah. Disatu waktu istirahat sekolah, gua dan para cecumuk seperti biasanya dengan muka bringas karna lapar menyerbu kantin dan saat itupula seseorang yang tak diharapkan sedang duduk manis dengan muka songong tapi cantik sih melepas tawanya yang membuat gigi kelincinya yang manis membuat wajahnya semakin terlihat KAWAAAIIIII !!!!

“eh, bocah napa lo liatin gua ?”, oh ternyata Anggi menyadari kalo gua daritadi menikmati kecantikannya.
“siapa juga yang ngeliatin lo, geer banget lo, *eh tumben gua brani ngomong kayak gini*.

Gua merasa gagah banget bisa bales omongannya, tapi disatu sisi gua juga kepikiran balesan apa yang akan gua dapet dari dia nantinya. Gua yakin dibalik senyum manisnya itu, dia sudah menyiapkan rencana keji untuk gua.

Dan apa yang gua takutkan terjadi juga, berawal dari keinginan gua nuju meja kasir buat bayar makanan yang uda gua santap dengan liar, Anggi juga ntah emang uda direncanakan atau gimana, yang jelas saat ini diapun berada tepat disamping gua dihadapan kasir, kalo gua pikir-pikir ini seperti kejadian saat mau ijab akbul, pria dan wanita berdiri berdampingan dihadapan penghulu dan dikelilingi sanak family. Bedanya disini pria dan wanita berdampingan dihadapan tukang kasir dan dikelilingi bocah labil.

Saat Anggi akan ngambil duit dari dompetnya, dompet yang dipegangnya jatuh. Dan saat itu juga naluri gua sebagai pria terpanggil, gua langsung turun mencoba membantu ngambil dompetnya, dan ternyata Anggipun juga ikut membungkuk dan mengambil dompet. Saat itu secara tak sengaja tangan kita berdua bersentuhan diatas dompet pink dengan ada gambar mickey mouse di sisi kiri.

Andai ini adalah adegan dalam sebuah drama korea tentu sudah anda backsound yang mengiringi adegan ini, dan kalo gua bisa request mungkin gua lebih suka lagunya Lee  Jong Hyun – My Love (Ost. Gentleman Dignity), jadi soundtrack dalam adegan ini.

Dalam suasana dua tangan beda pemilik yang saling bersentuhan dengan lembut. Mata kita saling bertemu, gua semakin yakin sebenarnya dia adalah wanita yang cantik dibalik kebrutalannya dengan gua. Gua liat diapun tersenyum ke arah gua, adegan ini berlangsung sekitar 30 detik tanpa ada “cut” dari sutradara (yang emang gak ada).

Sayang seribu sayang, ternyata saat itu gua uda masuk terlalu dalam jebakan yang dirancang dari gorilla cantik ini. senyum manisnya yang ia tampilkan saat adegan itu berubah jadi senyum licik, saat itu mulutnya terbuka dengan perlahan dan meluncurlah kata yang tak pernah kubayangkan akan keluar dari mulutnya.

“COPET, COOPPPEETT !!!...

Saat itu suasana mendadak mencekam, semua mata tertuju kepada gua dengan penuh nafsu. Dari tatapan mereka seakan mengatakan “lumayan hari ini dapat gebukin orang”. Dalam kondisi itu, gua merasa seseorang berkata “larilah sebelum kamu dilarikan” *dilarikan kerumah sakit maksudnya*.

Seketika itupula gua langsung tancap gas, namun beberapa langkah gua minggat dari TKP, gua ingat kalo gua belum bayar, langsung aja gua puter arah dan ngeluarin duit yang ada dikantong gua.

“nih, ambil aja kembaliannya”, sambil gua tancep gas lagi meninggalkan TKP dan juga gadis gorilla yang sepertinya tertawa bahagia melihat kondisi ini.

Dan baru gua sadari ternyata gua tadi ngeluarin duit 20 ribu Cuma buat bayar makanan 3 ribu. Bener-bener dah, uda berada dalam kondisi nyaris digebukin orang ditambah lagi uang mingguan gua lenyap seketika tanpa gua nikmatin, keblondrok cah !!!

Pulang sekolah gua merenung dipojok ranjang. Sebenarnya apa yang salah dengan hidup gua ini, bisa bertemu dengan wanita mengerikan tapi cantik sih, haha. Bisa gak sih tu cewek dikit aja nunjukin kalo dia tu bener-bener cewek ? kalo aja dia bisa nunjukin sedikit rasa feminimnya seperti Airin, haduh gua pasti bisa jatuh cinta ama ni anak. Tapi dia kayak gini aja uda bikin gua suka, apa gua jatuh cinta again ? ahhh !!! kampret banget gua ni, dikit-dikit jatuh cinta.

“Galih ! keluar, ini ada temen kamu”, tiba-tiba nyokap gua mengusik ngelamun time gua,
Gua pun keluar dengan langkah gontai layaknya zombie.
“eh Galih, pakai pakaian yg bagus dikit napa ?”, nyokap gua sedikit komen ngeliat gua yg Cuma makai kaos singlet dan kolor kotak-kotak.
“napa juga ma harus rapi, paling juga Riko”, jawab gua
“bukan Riko, kayaknya ini tamu special buat kamu deh, cewek loh”, sambil nyokap gua sedikit cekikikan mencurikan.
“cewek ? siapa y ?”, sambil gua masuk kekamar lagi buat ganti kostum.
“hmm, kira-kira cewek mana yang nyasar sampai kerumah gua ini ?”, gumam gua dalam hati sambil berjalan menuju ruang tamu.

Jujur saja, selama ini belum ada cewek yang hinggap kerumah gua, kecuali temen nyokap gua, sodara gua, atau paling itu dari SPG asuransi. Tapi kali ini, apakah peruntungan gua akan berubah dengan mulai adanya cewek yang mampir kerumah gua.

“hai !”, suara cewek itu menyapa gua yang masih dalam keadaan muka semrawut dan saat ini berada dihadapannya.
“Ma, 5 menit lagi tolong bangunin aku ya, kayaknya aku lagi mimpi buruk nih”, sambil gua puter balik kembali kekamar. Namun,,,
“buukkk !!!”, hantaman benda tumpul mengarah ke kepala gua,
“sialan lo bilang gua mimpi buruk”, dan cewek itupun semakin menunjukkan taringnya dan menunjukkan itu bukan mimpi.

Tentu kalian uda tau siapa cewek yang dibilang nyokap gua sebagai tamu special namun buat gua hanya sebagai mimpi buruk. Yes, she is Anggi. Haaa !!, gak ada pemandangan lain lagi apa ya ? disekolah uda ketemu dia, sekarang ketemu dia lagi.

“habis kesambet setan apa ni lo jadi mampir ke rumah gua ?”, Tanya gua sedikit jutek menahan sakit karna setelah bogem mentah gadis gorilla ini mendarat mulus diubun-ubun.
“gua niat baik ni ke rumah lo, gua mau ngajakin lo jalan, ya itung-itung permintaan maaf gua untuk kejadian gak sengaja disekolah tadi”, dengan sedikit nyengir yang memperlihatkan gigi kelincinya yang membuat dia semakin manis,
“mau jalan kemana emangnya ?”
“kita ke mall donk”
“hmm, ya uda, gua ganti baju dulu”, gua beranjak masuk kamar
“ya ela gak usa ganti baju, lo mau pakai apa aja tetep aja, tetep jelek, hahahh,,,”

Hmm, ni cewek sumpah deh gak ada baiknya apa. Oh ya, mall disini jangan lo bayangin kayak mall di kota-kota besar. Disini mah mall tu Cuma pusat perbelanjaan setinggi 2 lantai yang sedikit lebih luas dari toko kelontongan.

30 menit perjalanan gua muter-muter di mall. Harusnya gua tau tujuan cewek ngajakin cowok dimall ya Cuma buat jadi porter doank. Cewek mah enak, dia Cuma bawa dompet sebiji, nah yang cowok bawa baju puluhan.

Nemenin cewek belanja di mall itu artinya kita harus berada dipersimpangan keputusan. Kalian pasti pernah disuruh milih baju mana yang pantas buat dia

Cewek                        : sayang, baju ini bagus gak ?
*nah di saat kayak gini, kita dituntut memainkan scenario sebisa mungkin menyenangkan dia*
            cowok                        : bagus banget sayang, cocok banget dipakai dipadukan dengan wajah kamu yang cantik
Cewek                        : kalo yang ini bagus gak yang ?
*dan lagi kita harus berskenario*
Cowok                        : ini juga bagus banget sayang, klop deh
*nah disini sebenarnya kita sebagai cowok uda blunder, karna cewek akan menilai kita sebagai seseorang yang plin-plan*
Cewek                        : kamu gimana sih yang, yang bagus yang mana ?
Cowok                        : kamu tu pake apa aja bagus yang, apalagi kalo gak pake apa-apa
*untuk kalimat setelah koma harap jangan diterapkan dikehidupan sehari-hari*

Nah, gua pun juga ngalamin peristiwa dimana gua berada dalam persimpangan keputusan. Cuma bedanya gua gak perlu dianggap plin-plan, itu semua berkat ke songongan Anggi.

“menurut lo, gua lebih cocok sama yang putih ini cocok gak buat gua ?”, sambil dia mengepaskan bajunya kebadannya.
“cocok aja sih”,
“kalo yang merah ini ?”, dia bertanya lagi sambil sedikit lenggak-lenggok
“yang ini juga cocok”, jawab gua sedikit malas
“hmm, kayaknya cewek cantik kayak gua pake apa aja pasti cocok deh”,
Hhaa, tu kan apa gua bilang, ni anak emang songong.
“Lih, ikut gua ke kamar pas, gua mau nyobain ni pakaian”, ajakannya yang seakan mengisyaratkan gua hanya sebagai tukang bawa barang.

Dan gua pun ikut dibelakangnya seperti anak bebek yang mengekori induknya.

“gua tunggu disini aja deh, ini kan kamar pas cewek”, sambil gua ngambil posisi duduk didepan kamar pas
“uda lo masuk aja, gak apa-apa ko’, skalian bantuin nilai baju yang gua pakai ntar”, Anggi menarik gua masuk ke dalam kamar pas.

*perlu diketahui, kamar pasnya tu adalah suatu ruangan, dimana didalamnya terdapat kamar-kamar lagi, nah gua disini Cuma masuk ke ruangannya aja tapi gak ikut masuk ke kamarnya*

“ntar kalo ada yang masuk gimana ? gua bisa dikira tukang ngintip”, gua coba menolak
“nanti gua bilangin kalo lo temen gua dan gua yang nyuruh lo disini”, jawabnya seakan memberi ketenangan buat gua.

Dan harusnya gua tau kalo omongan si gadis gorilla cantik ini emang gak bisa dipegang. Dan bener saja, lum ada 5 menit gua disana, seorang cewek masuk dan tentu saja kaget ngeliat seorang cowok berwajah lugu menurut gua namun bertampang mesum dalam benak cewek ini. sontak aja dia langsung teriak.

“AAHHHHHHHH !!!!, satpam, ada tukang intip”, teriaknya
Dan satpampun secepat kilat seakan menggunakan awan kinton mendatangi sumber teriakan.


“ada apa ini ?”, salam pembuka dari sang pengaman
“ini pak ada cowok di kamar ganti cewek”, jawab cewek tadi
“eeee nganu pak, ini saya diminta tolong temen saya buat jagain dia selama dia ganti pakaian,,, eh Gi, keluar donk bantuin gua”, gua coba menjelaskan keadaan sambil manggil Anggi yang sepertinya belum menyadari kondisi genting ini.
“hmm, ada apa ya ?” Anggi akhirnya nongol
“selamat siang mbak, maaf apa mbak mengenal pria ini ?”, Tanya satpam mencoba mencari pembenaran.

Namun jawaban dari Anggi membuat semuanya menjadi semakin rumit.

“maaf pak, saya tidak mengenal pria ini. sepertinya tadi dia juga berniat mengintip saya”, jawaban Anggi yang sungguh cetar membahana badai menggelegar
“ta…ta…tapi, saya beneran temen dia pak, Gi, kamu ngomong apa sih ? jelasin yang bener donk”, gua yang mulai keringat dingin ngadapin masalah ini.
“sudah, kamu ikut saya ke pos dulu dan jelaskan disana”, dan satpam menyeret gua ke markasnya.

Sekitar 30 menit gua disidang singkat hingga akhirnya gua dibebaskan tanpa syarat.

“bener-bener dah tu anak, awas aja kalo ketemu, gua jitak deh”, gerutu gua sambil menuju parkiran dimana dia pasti uda nunggu disana.

“gimana Lih, masih sehat ?”, Tanyanya saat liat gua yang masih keliatan lemes setelah mengalami proses interogasi.
“sehat apaan kampret lo ah, ngorbanin temen sendiri, untung gua masih punya 1001 penjelasan”, gerutu gua yang masih belum bisa nerima kejadian tadi
“uuuu kasian Galih, cup cup cup cup”, sambil dia mengusap-usap rambutku dan melepaskan senyum manisnya.

Ya, senyum itulah yang khas darinya. Senyum itu yang membuat gua melupakan semua penindasan keji yang dia lakukan. Senyum itu yang bikin gua jatuh hati padanya. Dan senyum itu, gua yakin Tuhan tak memberikannya ke semua orang, dan dia si gadis gorilla manis beruntung dipilih Tuhan untuk memiliki senyum manis.

Anggi, gua mengenalnya dengan senyuman. Gua mengingatnya dengan senyuman. Gua menyukainya dengan senyuman. Dan jika harus kehilangannya, gua ingin tetap bisa menikmati senyumannya, walaupun saat itu ada pria lain yang membuatnya tersenyum.


Ntah akan sampai berapa kali gua ditindas, ntah akan berapa lama gua mengalami penindasan ini, selama dia masih memberikan senyuman manis yang menampakkan gigi kelincinya, di saat itu pula gua akan memaafkannya dan semakin menyukainya. Mungkin gua emang pria lemah yang tahluk hanya karna sebuah senyuman.

*Bersambung*
Back To Top